Contoh PENELITIAN KITAB RIJĀL AL-HADĪS

PENELITIAN KITAB RIJĀL AL-HADĪS
Ath-Thabaqatu al-Kabiri
Karya Muhammad bin Sa’ad bin Mani’ az-Zuhriy



Kata Pengantar

Bismillāhi ar-rahmāni ar-rahîmi
Segala pujian dan liturgi hanya milik Allah, Sang Pencipta dan Pembuka khazanah keilmuan. Shalawat serta salam dihaturkan kepada Rasulullah SAW, sebagai mentor dan proklamator Islam. Beliau adalah sumber utama (primer source) wacana keislaman yang menjadi kajian masa setelahnya. Hormat juga kepada para sahabat dan keluarga beliau, di mana jasa mereka adalah konfigurasi kepatuhan yang sangat mendalam.
Penelusuran perawi-perawi hadis Nabi merupakan sebuah proses yang panjang, membutuhkan sumber-sumber yang memiliki akuntabilitas, seperti kitab-kitab yang memuat penjelasan para perawi hadis tersebut. Salah satunya adalah kitab ath-Thabaqatu al-Kabir karya Muhammad bin Sa’ad bin Mani’ az-Zuhriy (w. 230 H). Pembacaan sekilas terhadap buku ini menjadi kajian dalam makalah ini, yaitu dengan pemaparan beberapa poin penting yang terkandung di dalam mukaddimah kitab tersebut.








Bab I
Pendahuluan

            Hadits adalah teks normatif kedua setelah al-Qur’an yang mewartakan prinsip dan doktrin ajaran Islam. Sebagai teks kedua (the second teks), hadits tidaklah sama dengan al-Qur’an dalam beberapa aspek, seperti dalam tingkat kepastian teks (qathi al-wurūd), maupun pada taraf kepastian argumen yang diajukan (qathi al-dalālah). Kenyataannya, hadits dihadapkan pada fakta tidak adanya jaminan otentik yang secara eksplisit menjamin kepastian teks, sebagaimana yang dimiliki oleh al-Qur’an. Konsep ini kemudian menjadi rahim lahirnya beberapa disiplin ilmu yang dibuat secara “swadaya” oleh para ahli.[1] Salah satu disiplin ilmu yang menyanggah taraf keotentikan hadis tersebut ialah Ilmu Rijalil Hadis.
            Ilmu Rijalil Hadis adalah yang membahas leksikon serta jejak perjalanan para perawi hadis. Cakupannya adalah jarh wa ta’dil[2] dan tarikh ar-ruwah[3]. Cakupan inilah yang menjadikan disiplin ilmu ini menjadi sesuatu yang sangat urgen. Makalah ini mencoba menyajikan salah satu karya (masterpiece) seorang pakar hadis, Ibn Sa’ad az-Zuhriy yang berjudul ath-Thabaqatu al-Kabir.

Rumusan Masalah
Runutan pemaparan akan disajikan dengan formulasi berikut ini:
1.      Biografi serta beberapa aspek eksternal dari pengarang, berupa guru, murid, dan karya-karya beliau.
2.      Isi mukaddimah kitab ath-Thabaqatu al-Kabir.
3.      Kesimpulan.








Bab II
Pembahasan

Biografi Pengarang dan Kilasan Karyanya[4]
Beliau adalah Muhammad bin Sa’ad bin Mani’ al-Katib az-Zuhri, lebih dikenal dengan Ibn Sa’ad, laqob beliau adalah kātibi al-wāqidiy (sekretaris dari al-Waqidiy). Beliau dilahirkan di Basrah pada tahun 168 H, kemudian pindah ke Baghdad dan berguru kepada gurunya, al-Waqidiy. Beliau menjadi katib al-Waqidiy dalam waktu yang lama dan kemudian terkenal dengan profesinya sebagai katib tersebut.

Rihlah keilmuan:
Di antara kota-kota yang menjadi tempat Ibn Sa’ad belajar adalah Kufah, Makkah, dan Madinah. Konon kota-kota tersebut[5] menjadi market atau icon aktivitas (pergerakan) edukasi ilmiah dengan skala besar. Kota-kota tersebut juga merupakan tempat pertemuan para ulama, dan merupakan tempat yang menjadi prioritas utama para pencari ilmu, seperti halnya mayoritas pendatang yang hendak meriwayatkan dari ulama-ulama di kota-kota tersebut.

Guru-guru:
Tidak mudah menyebut keseluruhan guru-gurunya karena mencapai bilangan ratusan. Tidak mungkin juga dijelaskan satu persatu biografi mereka, namun kami akan meringkas guru-guru Ibn Sa’ad sebagaimana diinformasikan oleh salah seorang yang pernah meriwayatkan dari beliau, sebagai berikut:
1.      Musa bin Uqbah (w. 141 H)
2.      Muhammad bin Ishaq (w. 150 H)
3.      Ma’mar bin Rasyid (w. 154 H)
4.      Abu Ma’syar asy-Syindi (w. 170 H)
5.      Ma’an bin ‘Isa (w. 198 H)
6.      Imarah bin al-Qadah (w. 204 H)
7.      Hisyam bin al-Kalibi (w. 204 H)
8.      Ibn Nu’aim al-Fadhl bin Dakin (w. 219 H)
9.      Al-Madainiy (w. 244 H)
Murid-murid:
Murid-murid Ibn Sa’ad juga sangat banyak di antaranya:
1.      Ahmad bin Yahya bin Khalid al-Baladzuriy (w. 279 H)
2.      Abu Bakar bin Abi ad-Dunya (w. 281 H)
3.      Al-Haris bin Muhammad bin Abi Usamah (w. 282 H)
4.      Al-Husain bin Muhammad bin Abdurrahman bin Fahm al-Baghdadiy (w. 289 H)
5.      Abul Qasim al-Baghawiy (w. 317 H)

Karya-karya:
i.                    Thobaqoh al-Kabir
ii.                  Thobaqoh al-Shogir
iii.                Kitabu al-Tarikh
iv.                 Kitabu al-Hiili

Wafat:
Mayoritas ulama yang meneliti biografi Ibn Sa’ad sepakat bahwa beliau wafat pada tahun 230 H.

Komentar para ulama:
Integritas Ibn Sa’ad di dalam perspektif beberapa ulama sangat istimewa. Tidak dapat disangsikan lagi bahwa beliau adalah ulama yang memiliki kelebihan-kelebihan. Kutipan pendapat para ulama tersebut antara lain:
1.      Al-Husain ibn Fahm (murid beliau), bahwa Ibn Sa’ad adalah seorang yang banyak ilmunya, pakar dalam bidang ilmu hadis dan riwayat dan produktif dalam kepenulisan.
2.      Ibn Nadim berkata bahwa Ibn Sa’ad merupakan seorang yang alim dan mengetahui seluk beluk khabar dari sahabat dan tabi’in.
3.      Khatib al-Baghdadiy memberikan sanjungan kepada Ibn Sa’ad dalam tarikhnya, bahwa beliau merupakan seorang ahli ilmu dan memiliki keutamaan.
4.      Adz-Dzahabiy berkomentar bahwa Ibn Sa’ad adalah seorang yang respect dan protect terhadap ilmu pengetahuan. Barangsiapa yang meneliti kitab-kitab thabaqatu niscaya akan tertunduk melihat keluasan ilmunya. 
5.      Abu Hattim, “Beliau adalah orang yang jujur.”
6.      Ibnu Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib, “Beliau adalah salah satu huffadz yang agung dan kuat dalam pengetahuan sejarah.”
Di antara beberapa hal yang perlu digaris bawahi, bahwa seluruh kritikus yang meneliti tentang Ibn Sa’ad telah berkonsensus bahwa beliau adalah seorang yang adil dan shoduq.
Sekilas tentang kitab ath-Thabaqatu al-Kabir
Ibn Sa’ad tidak hanya merujuk materi kepada al-Waqidiy saja, tetapi juga merujuk kepada sumber-sumber lain dalam skala banyak. Sebuah pendapat mengatakan bahwa materi yang dia ambil pada kitab al-Waqidi kurang dari 50 % (kurang dari setengahnya). 
Di antara rujukan lain yang menjadi sumber Ibn Sa’ad tersebut adalah riwayat dari Abi Nu’aim al-Fadhl bin Dakin Affan bin Muslim, Ubaidillah bin Musa al-Abbasiy, dan Ma’an bin ‘Isa al-Asyja’i dan lain-lain. Beliau juga merujuk kepada kitabnya Ibn Ishaq dan Abi Ma’syar dan Musa bin Uqbah yang menjadikannya sebagai sumber utama dalam periwayatannya.
Belum ada yang mendahului thabaqah Ibn Sa’ad kecuali thabaqah gurunya, al-Waqidiy. Ada beberapa bab dalam thabaqah al-kabir yang belum disebutkan oleh al-Waqidiy, yang seperti rincian letak geografis pada masa itu. Contoh lain adalah tentang riwayat perkawinan beberapa sahabat, dan beberapa pasal lain.

Sistematika Kitab ath-Thqbaqah al-Kabir
Ibnu Sa’ad membagi kitabnya ini menjadi dua bagian besar, yaitu pembahasan tentang perawi laki-laki (masculin transmittors) dan perawi wanita (feminime transmittors). Di samping itu beliau juga fokus pada pembahasan dengan place and time concept dan companions (transmittors) relation. Yaitu unsur tempat domisili, waktu, dan relasi sahabat (perawi) dengan nasabnya. Kemudian beliau memposisikan para sahabat yang merepresentasikan sahabat generasi awal ke dalam lima tingkatan (thabaqah).
Konstruksi stratifikasi sahabat dalam thabaqatu al-kabir berdasarkan ukuran siapa yang lebih dahulu masuk Islam dan keutamaan, dan di dalam setiap thabaqah dia menguraikan runutan nasab dan kemuliaan.
1.      Dia mengawali thabaqah yang pertama-ahli badar (sahabat yang berpartisipasi dalam perang badar)-kemudian nasab yang dekat dan yang paling dekat dengan Rasulullah SAW.
2.      Sedangkan thabaqah yang kedua adalah mencakup sahabat Anshar yang tidak turut dalam perang Badar (252 biografi), tetapi mereka termasuk orang yang awal-awal masuk Islam, mayoritas mereka telah hijrah ke daerah Habsyi, dan mereka berpartisipasi dalam perang Uhud dan perang-perang setelahnya (kisaran 466-717 biografi berada dalam juz keempat dari kitab ini).
3.      Thabaqah ketiga mencakup orang-orang Muhajirin dan Anshar yang mengikuti perang Khandaq dan perang setelahnya. Jumlah biografinya kisaran 309 biografi, dan sekitar 718-1026 biografi ada dalam juz kelima dalam kitab ini.
4.      Thabaqah keempat mencakup orang-orang yang masuk Islam pada saat Fathul Makkah dan setelahnya. Jumlahnya mencapai 344 biografi. Dimulai dari biografi yang ke-1027 hingga biografi ke-1366 dalam juz kelima.
5.      Thabaqah kelima mencakup orang yang masih berusia belia ketika Rasulullah wafat, dan belum pernah ikut berperang bersama Rasulullah, dan kebanyakan mereka menghafal (hafiz), dan sebagian dari mereka mendapati (bertemu) Rasulullah tetapi tidak meriwayatkan darinya. Jumlahnya 46 biografi (sebagian besar adalah biografi yang panjang). Dimulai dari biografi ke-1367 hingga biografi ke-1416 berada dalam juz kelima.
Berdasarkan salah satu rujukan pentahqiq[6] kitab mukkadimah ini, Ibn Sa’ad memaparkan kitabnya ke dalam beberapa juz sebagai berikut:[7]
Ø  Juz I dan II mengandung sirah Nabi (260 lembaran).
Ø  Juz III meliputi sifat para sahabat (247 lembaran).
Ø  Juz IV diawali dengan wasiat Abu Bakar dan diakhiri dengan biografi Habib bin Sa’ad (266 lembaran).
Ø  Juz V diawali biografi Basyar bin al-Barra dan diakhiri dengan biografi Thalhah bin Utbah (267 lembaran).
Ø  Juz VI, dimulai dengan pujian terhadap sahabat yang ada dalam thabaqah kedua, diawali dengan biografi Haritsah bin Sahl dan diakhiri dengan biografi Zaid bin Tsabit (273 lembaran).
Ø  Juz VII, diawali biografi Qais bin Qahd dan diakhiri dengan biografi Tamam bin al-Abbas bin Abd al-Muthalib (367 lembaran).
Ø  Juz VIII, dimulai dengan biografi al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan diakhiri dengan biografi al-Walid bin al-Walid (266 lembaran).
Ø  Juz IX, diawali dengan biografi Urwah bin Ibn az-Zubair dan diakhiri dengan biografi Abdullah bin Abdirrahman bin al-Qasimiy bin Muhammad bin Abi Bakr ash-Shiddiq (266 lembaran).
Ø  Juz X, diawali dengan biografi Muhammad bin Abdirrahman bin Abi Lailiy dan diakhiri dengan biografi Abdurrahman bin Syamasah (297 lembaran).
Ø  Kemudian satu juz tentang perawi wanita, diawali dengan penyebutan wanita-wanita Islam dan wanita-wanita yang ikut hijrah dan seterusnya, kemudian diakhiri dengan biografi Ruqaiqah binti Abdirrahman (196 lembaran).
Pembagian di atas berdasarkan sumber Maktabah Ahmad ats-Tsalits yang ditulis pada abad ke-7. Kitab ini sendiri menurut sebuah pendapat memuat 5554 buah biografi.
Setelah dia menguraikan sahabat berdasarkan tingkatan-tingkatannya, dia memulai pembahasan tingkatan-tingkatan para tabi’in dan orang-orang setelahnya, tetapi dalam pembahasan ini dia memperhatikan aspek geografis, yaitu penyusunan tabi’in berdasarkan daerah-daerah tempat mereka berdomisili.
Ibn Sa’ad memulai dari Madinah al-Munawwaroh, kemudian Makkah, Thaif, Yaman, Yamamah, Bahrain, kemudian Kufah, Basrah, Wasith, Madain, Baghdad, Khurasan, Ray, Hamdzan, Qum (Iran), dan Anbar. Kemudian Syam dan Al-Jazirah, Awashim dan Tsagur. Kemudian Mesir, Aylah, Afrika, dan Andalusia.
Di setiap kota-kota tersebut, terkecuali Madinah, dia membahas sahabat-sahabat yang singgah di kota-kota tersebut, kemudian diikuti dengan uraian tentang ahli ilmu yang belajar kepada sahabat, kemudian generasi setelahnya, kemudian Ibn Sa’ad melanjutkan pembahasan berdasarkan metode-metode tadi di setiap negara hingga pada aspek zamannya.
Dia memulai biografi perawi wanita yang berasal dari keluarga Rasul, dia mendahulukan Khadijah, kemudian putri-putri Rasul, kemudian bibinya, kemudian sepupu perempuan, kemudian istri-istri Rasul, kemudian wanita yang pernah dinikahi Rasul akan tetapi belum pernah berkumpul dengannya, kemudian wanita yang dicerai, ditalak, dan yang dilamarnya tetapi tidak sempat dinikahinya. Kemudian muslimat yang berbaiat dari Quraisy, dan perempuan-perempuan yang bersumpah dan budak-budak. Juga perempuan-perempuan asing dari Arab, perempuan-perempuan yang berhijarah dan berbaiat, wanita dari kalangan Anshar, kemudian dia mengakhiri pembahasan ini dengan nama-nama perawi perempuan yang tidak meriwayatkan hadis dari Nabi, tetapi meriwayatkan dari istri-istri Nabi dan selainnya.
Setelah dicermati, sebagian perawi yang ada dalam kitab ini berpindah dari satu kota ke kota yang lain, hal ini mengakibatkan terjadinya pengulangan biografi mereka berdasarkan kota yang mereka kunjungi atau mereka tempati. Kemudian Ibn Sa’ad menguraikan dari aspek ini tanpa pengulangan materi, kecuali karena kondisi yang mendesak/penting. Oleh karenanya, terkadang kita mendapati beliau menguraikan sebuah biografi secara panjang lebar, dan dia meringkasnya pada tema-tema yang lain.

Metode Ibn Sa’ad dalam mendeskripsikan teori-teori ilmiah[8]
Style metodologis Ibn Sa’ad dalam mendeskripsikan informasi-informasi yang terstruktur dan kriteria-kriteria perawi “pejuang” (al-Muharib) yang diteliti biografinya dan popularitasnya. Metode pemaparan Ibn Sa’ad bersifat holistik-komprehensif. Contoh:
v  Ibn Sa’ad mendeskripsikan Salmah bin al-Akwa’ sebagai pejuang dan pemanah yang gagah.
v  Umar bin Khaththab digambarkan sebagai orang yang gagah dan tidak kenal rasa takut, sebagaimana ia mendeskripsikan Hisyam bin Tsabit dengan pembelaannya terhadap Rasul dan agama Islam.
Di samping itu Ibn Sa’ad senantiasa memulai setiap biografi perawi muharib dengan menjelaskan nasab perawi tersebut, kemudian menceritakan nasab ayah dan ibunya diikuti dengan silsilah nasab-nasab itu, dilanjutkan relasi silsilah tersebut dengan beberapa generasi. Kemudian ia menceritakan anak-anak perawi tersebut dan istrinya, serta menceritakan nasab-nasab istri mereka tersebut. Sederhananya, deskripsi Ibn Sa’ad terhadap perawi muharib tersebut menjadi komprehensif dan menyentuh segala yang berkaitan dengan perawi.
Di sela-sela pembahasannya itu Ibn Sa’ad menyisipkan penjelasan tentang silsilah sahabat, sisi historisnya, dan aspek domisili keluarga sahabat tersebut, apakah masih menetap di Madinah atau keluar dari Madinah, dan berdomisili di negara-negara Islam lainnya. Sebagaimana Ibn Sa’ad menjelaskan waktu seorang sahabat masuk Islam dan runutan para sahabat masuk Islam, entah dia masuk Islam urutan kelima atau keenam. Ibn Sa’ad juga tidak melewatkan aspek partisipasi seorang sahabat dalam hijrah ke Habsyi dan ke Madinah.
Pada bagian akhir Ibn Sa’ad menjelaskan ending (epilog) dari biografi seorang sahabat. Dan menjelaskan waktu dan sebab-sebab dia wafat. Berulangkali ia menyebutkan peristiwa Yamamah pada tahun 12 H, serta kejadian-kejadian yang disaksikan oleh kebanyakan sahabat masa awal. Oleh karena itu, kita dapat menemukan spesifikasi informasi terkait dengan penguburannya, orang yang memandikan, dan dengan apa dia dikafani, dan lain-lain.
Seringkali Ibn Sa’ad menjelaskan informasi yang deskriptif sehingga dapat memberikan gambaran kepada pembaca tentang seorang sahabat, seperti karakter organ tubuh, dan lain-lain.
Hal ini tidak mengurangi bagian akhir yang khusus membahas tentang perawi wanita. Dia juga tidak melewatkan aspek peradaban dan pemikiran Islam. Bagian ini juga dianggap sebagai media dalam kritik sanad, karena termasuk sebagai partisipan periwayatan sebuah hadis.

Contoh:
( ومن نساء بني السلم بن امرئ القيس بن مرة بن مالك بن الأوس )
 خيرة بنت أبي أمية بن الحارث بن مالك بن كعب بن الحناط ويقال النحاط بن كعب بن حارثة بن غنم بن السلم تزوجها مكنف بن محيصة بن مسعود بن كعب بن عامر بن عدي بن مجدعة بن حارثة بن الحارث أسلمت وبايعت رسول الله صلى الله عليه و سلم فهؤلاء نساء الأوس المبايعات

( ذكر تزوج عبد الله بن عبد المطلب آمنة بنت وهب أم رسول الله صلى الله عليه و سلم )
 قال حدثنا محمد بن عمر بن واقد الأسلمي قال حدثني عبد الله بن جعفر الزهري عن عمته أم بكر بنت المسور بن مخرمة عن أبيها قال وحدثني عمر بن محمد بن عمر بن علي بن أبي طالب عن يحيى بن شبل عن أبي جعفر محمد بن علي بن الحسين قالا كانت آمنة بنت وهب ابن عبد مناف بن زهرة بن كلاب في حجر عمها وهيب بن عبد مناف بن زهرة فمشى اليه عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف بن قصي بابنه عبد الله بن عبد المطلب أبي رسول الله صلى الله عليه و سلم فخطب عليه آمنة بنت وهب فزوجها عبد الله بن عبد المطلب وخطب اليه عبد المطلب بن هاشم في مجلسه ذلك ابنته هالة بنت وهيب على نفسه فزوجه إياها فكان تزوج عبد المطلب بن هاشم وتزوج عبد الله بن عبد المطلب في مجلس واحد فولدت هالة بنت وهيب لعبد المطلب حمزة بن عبد المطلب فكان حمزة عم رسول الله صلى الله عليه و سلم في النسب وأخاه من الرضاعة قال أخبرنا هشام بن محمد بن السائب الكلبي عن أبيه وعن أبي الفياض الخثعمي قالا لما تزوج عبد الله بن عبد المطلب آمنة بنت وهب أقام عندها ثلاثا وكانت تلك السنة عندهم إذا دخل الرجل على امرأته في أهلها.

Beberapa catatan:
Sebagian kalangan mengatakan bahwa ada beberapa biografi dalam karangan Ibn Sa’ad yang tenggang kroniknya terjadi pasca wafatnya Ibn Sa’ad. Contoh biografi perawi yang tahun wafatnya setelah tahun wafat Ibn Sa’ad tersebut antara lain:
1)      Ismail bin Bassam (w. 236 H)
2)      Al-Hakam bin Musa al-Bazzaz al-Baghdadiy (w. 232 H)
3)      Syuja’ bin Makhlad Abul Fadhl (w. 235 H)
4)      Ubaidillah bin Umar bin Maisaroh al-Qawaririy (w. 235 H)
5)      Muhammad bin Hatim bin Maimun al-Baghdadiy (w. 235 H)
Pada akhir kitab tersebut terdapat beberapa catatan tambahan oleh muridnya, al-Husain bin Fahm, di antaranya adalah biografi Muhammad bin Sa’ad sendiri. Deskripsi mengenai biografi Ibnu Sa’ad dalam kitab Thobaqot al-Kabir ini adalah seperti berikut:
Muhammad Ibn Sa’ad Shohibu al-Waqidiy, dia adalah maula (majikan) dari al-Husain bin Abdillah bin Ubaidillah bin Abbas bin Abdu al-Mutholib al-Hasyimiy, wafat di Baghdad pada hari Ahad tanggal 4 Jumadil Akhir tahun 230 H. Beliau dim akamkan di pemakaman Babu asy-Syam. Beliau meninggal dalam usia 62 tahun. Beliau menyusun kitab ath-Thobaqat dan mentakhrij, mengarang, serta diriwayatkan dari beliau. Beliau mempunyai banyak ilmu, hadis, riwayat, serta kitab-kitab yang lain. Beliau menulis kitab hadis dan lainnya termasuk kitab gharib dan fiqh.”[9]
Biografi ini merupakan satu-satunya yang dinisbatkan kepada muridnya, al-Husain bin Fahm secara komprehensif. Al-Husain bin Fahm adalah yang meriwayatkan kitabnya (ath-Thobaqatu al-Kabir).
Selain itu, terdapat pertanyaan seputar penamaan kitab Ibn Sa’ad tersebut. Apakah bernama ath-Thabaqatu al-Kabir (buku besar tentang golongan-golongan atau kelas-kelas) atau ath-Thabaqatu al-Kubra (golongan-golongan yang besar)? Yang berbeda hanya pada pencetak dan pentahqiq. Pada dasarnya dua kitab ini sama, pengarang dan isinya sama. Akan tetapi di dalam muqaddimah disebutkan bahwa pada manuskrip-manuskrip kebanyakan nama kitab yang tertera adalah ‘Kitab ath-Thabaqat al-Kabir’. Nama ini juga yang sering digunakan para ulama dalam kitabnya seperti dalam Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat karya an-Nawawi (juz 1 hlm. 6), ‘Uyaun al-Atsraj karya Ibnu Said an-Nas (juz 2:333), Tahdzib al-Kamal (juz 7:386), dan lain-lain. Bahkan di dalam muqaddimah pentahqiq ath-Thabaqatu al-Kubra sendiri terkadang menyebutnya dengan nama Kitab ath-Thabaqatu al-Kabir. Berikut contoh bagian dari manuskripnya Ahmad al-Tsalaits:

Rekomendasi keistimewaan dan kekurangan kitab:
Keistimewaan:
ü  Menggunakan sistem sanad sehingga penyandaran riwayatnya jelas.
ü  Spesifikasi penjelasan biografi secara detail.
ü  Biografi periwayat diklasifikasikan dalam berbagai tabaqah sehingga memudahkan untuk mengetahui generasi satu dengan yang lainnya.
ü  Penulisan nama lebih teliti dibanding pada kitab lain
Kekurangan:
Salah satu kekurangan dari kitab ini adalah susunannya yang tidak alfabetis yang menyulitkan kita untuk mencari biografi seorang sahabat dengan cepat.






Bab III
Kesimpulan

Pembahasan mukaddimah kitab ath-Thabaqatu al-Kabir karya Ibn Sa’ad ini memunculkan beberapa kongklusi sebagai berikut:
1.      Kitab ath-Thabaqatu al-Kabir memiliki informasi yang lebih lengkap daripada karya gurunya, al-Waqidiy, karena Ibn Sa’ad juga merujuk kepada guru-gurunya yang lain.
2.      Dalam sistematika penyusunannya, Ibn Sa’ad membagi penjelasannya dengan menggunakan beberapa unsur, seperti: unsur perawi laki-laki (masculin transmittors) dan perawi wanita (feminime transmittors), unsur thabaqah dengan pembagian ke dalam beberapa juz, unsur tempat dan waktu, serta unsur masa masuk Islam, serta unsur-unsur yang lainnya.
3.      Beliau menggunakan metode pemaparan yang bersifat holistik-komprehensif, di mana dijelaskan secara terperinci semua hal yang berkaitan dengan seorang perawi.




















Lampiran
Peta Terkait Pembahasan Ini

Description: IRAQ-SOUTH-MAP.jpg














[1] Lihat Kritik Matan Hadits karangan Drs. Hasjim Abbas
[2] Telisik perihal rawi dari aspek keadilan (keselamatan) dan kecacatan
[3] Ilmu yang membahas tentang biografi  dan keadaan para rawi dari segi aktivitas mereka dalam meriwayatkan hadis
[4] Tahqiq Kitabu al-Thabaqatu al-Kabir, مكتبة الخا نجي بالقاهرة, hal. 18-23
[5] Kufah, Mekkah, dan Madinah
[6] Pentahqiqnya adalah Dr. Ali Muhammad Umar
[7] Tahqiq Kitabu al-Thabaqatu al-Kabir, مكتبة الخا نجي بالقاهرة, hal. 29-30
[8] Tahqiq Kitabu al-Thabaqatu al-Kabir, مكتبة الخا نجي بالقاهرة, hal. 12-14
[9] Hal ini juga ditemukan dalam kitabbya al-Mizziy juz 25 hal. 258

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar