Contoh Makalah Studi Kitab Hadis

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Nabi Muhammad adalah adalah pusat perhatian bagi semua umat muslim. Segala perkataan, perbuatan, dan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad adalah sabda yang sangat dianjurkan untuk diteladani. Semua informasi mengenai hal tersebut telah direkam oleh para sahabat. Rekaman yang mereka miliki tersebut kemudian disebarkan kepada sesama sahabat, murid, dan tabi’in. Penyebaran hadits tersebut terjadi secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Sebelum kodifikasi hadits dilakukan, umat merasakan kesulitan untuk mendapatkan informasi dan ilmu mengenai Nabi Muhammad. Hal ini disebabkan oleh proses transmisi yang ada didominasi oleh tradisi lisan. Dampak yang timbul adalah munculnya hadits-hadits palsu yang meluas. Hal ini yang memotivasi beberapa ulama’ untuk melakukan kodifikasi hadits.
Salah satu ulama’ yang melakukan kegiaan tersebut adalah Al-Darimi. Jasa Al-Darimi sangat besar bagi perkembangan khazanah keilmuan islam. Di kalangan ulama’ muslim, Al-Darimi cukup masyhur. Namun tidak banyak umat Islam yang mengenal Al-Darimi. Agar umat dapat mengenal imam besar, maka penulis terdorong untuk menjadikan Al-Darimi dan kitab-kitabnya sebagai objek pembahasan dari makalah ini dan menjadikan “Menjajaki Sekilas Kitab Sunan Ad-Darimi Sebagai Salah Satu Kekayaan Khazanah Islam” sebagai judul dari makalah ini.

A.      Rumusan Masalah
Konsepsi pembahasan pada makalah ini beranjak dari beberapa  pertanyaan berikut :
1.      Siapakah sosok Al-Darimi?
2.      Bagaimana karakteristik kitab yang disusun oleh Al-Darimi?
3.      Bagaimana metode  pengumpulan hadis yang dilakukan oleh Ad-Darimi dalam kitab Sunan beliau?

B.       Tujuan Pembahasan
Pembahasan ini berorientasi kepada:
1.      Upaya pengenalan mendalam terhadap sosok Al-Darimi
2.      Mengetahui karakteristik kitab yang disusun oleh Al-Darimi
3.      Mengetahui metode penghimpunan hadits dalam kitab Sunan ad-Darimi

BAB II
PEMBAHASAN

1.        Biografi Singkat Al-Darimi
Mengetahui biografi seorang tokoh yang menjadi objek kajian adalah salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Dari biografi, pembaca dapat mengetahui seberapa dalam keilmuan orang tersebut. Selain itu, pembaca dapat mengetahui karakter serta hubungan tokoh tersebut dengan tokoh yang lain. Beberapa pengkaji seringkali lupa menelusuri riwayat hidup tokoh yang sedang dikaji. Hal ini menyebabkan hasil kajian dan temuan mereka kurang valid. Begitu pentingnya mengetahui biografi tokoh yang sedang dikaji, maka penulis juga mengulas mengenai biografi Al-Darimi.
Nama lengkap dari Al-Darimi adalah ‘Abdurrahman ibn ‘Abdirrahman ibn Al-Fadhl ibn Bahram ibn ‘Abdis Shamad. Kebiasaan masyarakat timur tengah adalah memiliki nama selain nama pemberian orang tua. Mereka biasa diberi nama oleh orang yang berada di sekitarnya. Al-Darimi lebih dikenal sebagai Abu Muhammad Al-Darimi. Abu Muhammad adalah nama kunyahnya yang disandarkan dengan Al-Darimi. Al-Darimi adalah nisbah kepada Darim ibn Malik dari Bani Tamim. Selain itu, beliau juga dinisbatkan kepada Al-Tamimiy dan Al-Samarqandi. Al-Tamimiy adalah nisbat kepada qabilah di mana beliau bernaung, sedangkan Al-Samarqandi adalah kota kelahiran dan tempat tinggal beliau.
Al-Darimi dilahirkan ditahun Ibn Al-Mubarak wafat, yaitu pada tahun 181 H. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Darimi tidak mungkin berguru langsung kepada Ibn Al-Mubarak. Al-Darimi wafat pada tahun 255 H di hari Tarwiyah setelah menunaikan sholat ‘Ashar dan dimakamkan pada keesokan harinya. Ketika beliau meninggal, umurnya adalah 75 tahun. Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 250 H, namun ulama’ meragukan kabar itu. Al-Darimi dikaruniai kecerdasan otak yang tinggi sehingga beliau menyerap ilmu yang sangat dari guru-gurunya. Beliau berguru dengan sangat baik kepada guru yang lebih tua dari beliau, begitu juga kepada guru yang lebih muda darinya. Beliau terkenal sebagai orang yang sangat wara’ dan tawadlu’.[1] Menurut Ahmad ibn Hanbal, Al-darimi adalah seorang Imam. Al-Hafidz Bandar Muhammad ibn Basyar menilai Al-Darimi adalah salah seorang hafidz terbesar di dunia ini. Usman ibn Syaibah, salah seorang guru Al-Darimi, berkata kepada penduduk khurasan bahwa selama Al-Darimi masih berada di antara mereka, maka mereka tidak perlu bersusah payah untuk mencari orang lain.
Beliau telah menyerap ilmu dari banyak guru. Beliau pernah berguru tentang hadits kepada Yazid ibn Harun, Ja’far ibn ‘Aun, Ya’la ibn ‘Ubaid, Basyar ibn ‘Umar Al-Zahrani, Abu ‘Ali Ubaidillah ibn ‘Abdil Majid Al-Hanafiy, Abu Bakar ‘Abd Kabir.[2] Selain itu, ia juga pernah berguru kepada Muhammad ibn Bakar Al-Barsaniy, Wahab ibn Jarir, dan Ahmad Ishak Al-Hadrami. Beliau juga pernah belajar pada ‘Utsman ibn ‘Umar ibn Faris, Sa’id ibn ‘Umar Al-Dloba’iy, Al-Aswad ibn ‘Umar, ‘Ubaidillah ibn Musa, Abu Musa Al-Mughiroh Al-Khalwaniy, Muhammad ibn Yusuf Al-Faryabiy, Abd Al-Shomad ibn ‘Abd Al-Warits, dan juga Yahya ibn Mu’ayyan.
Tidak semua ilmu yang diperoleh diriwayatkan kembali oleh Al-Darimi. Murid-murid beruntung yang pernah belajar kepadanya adalah Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, ‘Abd ibn Humaid, Raja’ ibn Marja’, dan Hasan ibn Al-Shabbah. Selain mereka, Muhammad ibn Basyar Bandar, Muhammad ibn Yahya, Baqiy ibn Makhlaf, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Shalih ibn Muhammad Jazrah, Ibrahim ibn Abi Talib, dan juga Muhammad ibn Isma’il juga pernah belajar pada Al-Darimi.[3] Ja’far ibn Ahmad ibn Faris, Ja’far Al-Faryabiy, ‘Abdullah ibn Ahmad, ‘Umar ibn Muhammad ibn Bujair, Muhammad ibn Nadhar Al-Jarudiy, dan Isa ibn ‘Umar Al-Samarqandi juga pernah berguru kepada Al-Darimi.[4]



2.        Kredibilitas dan Posisi Ad-Darimi Dalam Pandangan Kritikus
Ad-Darimi sebagai seorang ilmuwan muslim yang menggeluti khazanah Islam telah mendapatkan posisi istimewa dalam pandangan ulama-ulama Islam. Berikut beberapa penilaian para ulama tentang kualitas seorang Ad-Darimi:
a.       Ahmad bin Hanbal berkata: “Beliau adalah Imam”.
b.      Al-Hafidz Bandar Muhammad ibn Basyar (salah satu guru Ad-Darimi): “Hafidz di seluruh dunia ini ada empat. Mereka adalah Abu Zur’ah di Ray, Muslim di Naysaburi, ‘Abdullah ibn ‘Abdirrahman (Ad-Darimi) di Samarqand, dan Muhammad ibn Ismail (al-Bukhari) di Bukhara”.
c.       Al-Hafiz Abu Sa’id al-Asyji: “Abdullah ibn ‘Abdurrahman adalah imam kami”.
d.      Al-Hafiz Usman ibn Abi Syaibah, salah satu guru beliau: “Kecerdasan, hafalan dan kepribadian Ad-Darimi lebih baik dari apa yang mereka perbincangkan”.
e.       Muhammad ibn ‘Abdullah al-Makhrami: “Wahai penduduk Khurasan, selama ‘Abdullah ibn ‘Abdurrahman ada beserta kalian, tidak perlu kamu bersusah payah kepada yang lainnya”.
f.       Ibn Hibban: “Termasuk Huffaz yang kokoh. Ia orang yang wara’ dalam agama. Ia menghafal, mengumpulkan, mendalami dan menyusun kitab, dan menyebarkan sunnah di negerinya dan mengajak orang lain untuk mengikutinya”.

3.        Buah Tangan Ad-Darimi Dalam Kepenulisan
Intelektualitas serta keluasan ilmu Ad-Darimi dalam ranah keilmuan Islam beliau tuangkan dalam bentuk karya tulis. Dalam bidang hadis karya beliau yang populer adalah kitab hadis yang berjudul “al-Hadis al-Musnad al-Marfu’ wa al-Mauquf wa al-Maqtu’” yang kemudian kita kenal dengan sebutan “Sunan al-Darimi”. Sebagai mana judulnya, isi daripada kitab hadis beliau terdiri dari hadis-hadis yang marfu’, mauquf dan maqtu’. Manyoritas hadis-hadis yang terdapat dalam kitab itu adalah hadis-hadis yang marfu’ , yang menjadi  sandaran utama dalam mengemukakan hukum-hukum pada setiap babnya. Namun ada dilain kesempatan beliau memperpanjang lebar pembahasan dengan menambah hadis yang marfu’ dan mengemukakan berbagai atsar dari para sahabat maupun dari para tabi’in. hal semacam ini ia kemuakakan dalam beberapa bab taharah dan faraid. Adapun penambahannya dengan atsar, hadis mauquf dan hadis maqtu’ adalah yang ia kemukakan dalam muqaddimah dan fadail al-Qur’an.[5]
            Dalam memaparkan berbagai macam hadis, terkadang beliau menjelaskan pilihannya dari berbagai ikhtilaf dibidang fiqih. Terkadang ia juga menjelaskan makna lafal hadis yang gharib, sebagaimana ia juga menjelaskan makna kandungan hadis. Ia terkadang juga menjelaskan cacat yang tersembunyi didalam hadis yang ia paparkan, tetapi hal ini sangatlah jarang.
Selain kitab hadis, Ad-Darimi juga menyusun kitab tafsir dan ensiklopedi. Namun kita tidak lagi menemukan hasil pemikiran Ad-Darimi dalam wawasan tafsir dan ensiklopedi tersebut pada masa sekarang ini.

4.        Sistematika Penyusunan
Sunan ad-Dârimî merupakan satu dari sekian banyak buku-buku Hadis yang sangat berharga dalam dunia Islam. Berkata Mughkathâya: “Sesungguhnya Sekolompok Ulama mengatakan musnad ad-Dârimí adalah Shâhîh”.           
            Ibnu Shalâh menjadikan Sunan ad-Dârimî sebagai salah satu kitab musnad. Kalau yang dimaksud musnad adalah bahwa Hadis-hadis dalam buku itu semua bersandar kepada Nabi Saw. tidak jadi masalah, akan tetapi kalau dimaksudkan bahwa buku Sunan disusun menurut abjad nama Sahabat tidak menurut bab-bab fiqih tentu itu tidak tepat karena buku Sunan disusun sesuai dengan bab-bab fiqih.        
            Penilaian ini terjadi mungkin karena Hadis-hadis di dalam kitab Sunan semuanya ada sandarannya (musnadatun), namun kalau seperti ini penilaiannya tidak jadi masalah. Karena Shahîh Bukhâri juga dinamakan musnad jâmi’, karena hadis-hadisnya ada sandarannya bukan karena disusun menurut metode kitab-kitab musnad.           
Adapun status Hadis di dalam Sunan ad-Dârimî adalah bermacam-macam, yaitu:  
1. Hadis Shahîh yang disepakati oleh Imam Bukhari Muslim           
2. Hadis Shahîh yang disepakati oleh salah satu keduanya   
3. Hadis Shahîh di atas syarat keduanya       
4. Hadis Shahîh di atas syarat salah satu keduanya   
5. Hadis Hasan           
6. Hadis Sadz-dzah    
7. Hadis Mungkar, akan tetapi itu hanya sedikit       
8. Hadis Mursal dan Mauquf, akan tetapi ada thuruq lain yang menguatkannya .                Berkata Syekh ‘Abdul Haq ad-Dahlâwî: berkata sebahagian para ulama bahwa kitab ad-Dârimî lebih pantas dan cocok untuk dimasukkan dalam katagori kutubussittah menggantikan posisi Sunan Ibnu Mâjah, dengan alasan:       
1. Karena rijâlul hadisnya lebih kuat  
2. Keberadaan Hadis Sadz-dzah dan Munkar hanya sedikit 
3. Sanadnya termasuk sanad yang âliyah      
4. Rijâlul hadisnya tiga orang lebih banyak dalam kitab Sunan ad-Dârimî dari pada dalam Shâhih Bukhâri .         
            Dalam kitab Ad-Darimi ini memiliki sistematika penyusunan yang baik. Yang terdiri dari 24 kitab, ratusan bab, dan 3367 buah hadis. Adapun urutan sistematika penyusunan kitab adalah sebagai berikut:[6]

NO.
Judul Kitab
Jumlah Hadis
Nomor Hadis
1
Muqaddimah
647
1-647
2
At-Taharah
511
648-1158
3
As-Shalat
404
1159-1562
4
Al-Zakat
57
1563-1619
5
Al-Shaum
98
1620-1717
6
Al-Manasik
145
1718-1862
7
Al-Adahi
55
1863-1917
8
Al-Sayd
16
1918-1933
9
Al-At’imah
62
1934-1995
10
Al-Asyribah
47
1996-2042
11
Al-Ru’ya
27
2043-2069
12
Al-Nikah
92
2070-2161
13
Al-Talaq
32
2162-2193
14
Al-Hudud
33
2194-2226
15
Al-Nudzur wa al-Amin
18
2227-2244
16
Al-Diyat
38
2245-2282
17
Al-Jihad
45
2283-2327
18
Al-Siyar
91
2328-2418
19
Al-Buyu’
96
2419-2514
20
Al-Isti’zan
75
2515-2589
21
Al-Rizaq
136
2590-2725
22
Al-Faraidh
320
2726-3045
23
Al-Wasaya
126
3046-3171
24
Fadail Al-Qur’an
195
3172-3367


5.        Perihal Hadis Mua’llaq
Dalam mengklasifikasikan kitab sunannya, ad-Darimi tidak memperbanyak dalam jalur sanad, hal ini supaya bukunya tersusun secara ringkas. Kasus seperti ini dapat kita saksikan dari bab per-bab, dari hadis-hadis yang beliau letakkan dalam kitab sunannya. Terkadang ia hanya meletakkan satu buah hadis dalam satu bab, dua buah hadis dan tiga buah hadis saja. Sangat jarang kita temukan dalam satu bab terdiri dari empat buah hadis atau lebih. Bila mengingat kapasitas ad-Darimi, tampak memang ia menyengaja hanya memasukkan hadis-hadis dengan kualifikasi yang tinggi dalam bab-babnya. Inilah alasan mengapa ia tidak memasukkan hadis-hadis mu’allaq dalam tulisannya. Hadis mu’allaq memang sedikit dalam bukunya, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan tidak lebih dari 10 buah hadis.

6.        Perihal Pengumpulan Hadis
Ad-Darimi dalam menyusun kitab ini laksana sistematika yang digunakan penyusun kitab-kitab fiqih, sehingga tidak bisa di hindari adanya pengulangan hadis. Akan tetapi, tampaknya ad-Darimi berusaha agar kitabnya ini menjadi suatu kitab yang ringkas, sehingga ia membuat agar pengulangan penyebutan hadis itu banyak terjadi.
Apabila bab itu terjadi dalam bab yang sama, al-Darimi akan mengemukakan hadis lain yang memiliki ziyadah pada matannya. Akan tetapi apabila pengulangan itu terjadi pada bab yang berbeda, terkadang al-darimi mengemukakan hadisnya sama persis, baik sanad maupun matannya. Hal ini bisa dilihat hadis-hadis pada kitab ash-shalah bab taganni bi al-Qur’an yang diriwayatkan Abu Hurairah, Aisyah dan Sa’ad ibnu Abi Waqqos, diulang diakhir kitab pada kitab fadhail al-Qur’an bab al-taganni bi al-Qur’an.

7.        Perihal Pemenggalan Hadis
Ad-Darimi tidak banyak melaukan pemenggalan hadis, yaitu mengemukakan sebagian lafalnya pada bab tertentu, dan mengemukakan sebagian lafalnya yang lain lagi pada bab yang lain. Hal ini terjadi karena ad-Darimi memang menyedikitkan pengulangan penyebutan hadis dalam bukunya.
Terjadi pemenggalan seperti ini biasanya mengikuti subbab-bab dalam kitab fiqih, karena terkadang dalam satu buah hadis itu lebih dari satu buah hokum tentang amalan sunnah yang berada juga dalam bab lainnya. Oleh karena itu pemenggalan hadis, atau pengulangan hadis, menjadi suatu hal yang tidak dapat dielakkan dalam penyusunan hadis, sebagaimana yang dilakukan oleh bukhari dalam menyusun kitabnya.
Ad-Darimi memang tidak melakukan hal demikian, melainkan sedikit. Namun, walaupun di dalam kitab beliau terdapat suatu hadis yang lebih ringkas dari jalur rawi yang diriwayatkan, oleh beliau hal itu tidak ia lakukan dalam hadis yang panjang.

8.        Perihal Hadis Mursal
Dari 3367 buah hadis yang terdapat di dalam sunan ad-Darimi terdapat sekitar 89 buah hadis mursal. Penyebaran hadis-hadis, tersebut adalah sebagai berikut:
No
Judul Kitab
Jumlah Hadis Mursal
1.
Muqaddimah
40
2.
Al- Taharah
7
3.
Al- Salat
1
4.
Al- Zakat
1
5.
Al- Manasik
2
6.
Al- Nikah
6
7.
Al- Talaq
1
8.
Al- Hudud
1
9.
Al- Siyar
1
10.
Al- Riqaq
2
11.
Al- Faraidh
11
12.
Al- Wasaya
1
13.
Al- Fadhail Qur’an
15


9.        Hadis Maqtu’
Adapun hadis maqtu’ yang terdapat dalam sunan ad-Darimi berjumlah 240 buah hadis. Penyebaran hadis maqtu’ tersebut adalah sebagai berikut:
No.
Judul Kitab
Jumlah Hadis Maqtu’
1.
Muqaddimah
64
2.
Al- Taharah
19
3.
Al-Salat
4
4.
Al-Zakat
1
5.
Al- Saum
2
6.
Al- Adahi
1
7.
Al- At’imah
3
8.
Al- Asyribah
1
9.
Al- Ru’ya
1
10.
Al- Nikah
3
11.
Al-Talaq
3
12.
Al- Hudud
3
13.
Al- Jihad
2
14.
Al- Siyar
3
15.
Al-Buyu’
5
16.
Al- Isti’dzan
4
17.
Al- Riqaq
1
18.
Al- Faraidh
86
19.
Al- Wasaya
11
20.
Fadail Qur’an
24

10.    Kriteria Ad-Darimi
Ad-Darimi tidak menyatakan secara eksplisit criteria-kriteria tertentu yang ia pakai untuk menyaring hadis-hadis yang ia masukan kedalam kitabnya tersebut. Begitu juga para ulama belum ada yang mengemukakan secara komprehensif mengenai kriteria ad-Darimi tersebut.
Al-Hafidz ‘Ala’i mengemukakan beberapa indikasi yang berkaitan dengan kriteria al-Darimi dalam menyaring hadis dalam kitabnya. Indikasiindikasi tersebut menyebabkan ‘Ala’I lebih memilih sunan ad-Darimi sebagai kitab hadis yang keenam dari pada sunan ibnu majah, untuk melengkapi lima kitab hadis sumber primer yang standar (Shahih al-Bukhari, Shohih Muslim, Sunan atTirmizi, Sunan Abu Dawud, dan Sunan An-Nasa’i). menurut ‘Ala’i , dalam sunan ad-Darimi sangat sedikit rijal yang dhaif, hadis yang munkar  dan syadz yang jarang dijumpai. Meskipun ada hadis-hadis yang mursal dan mauquf, tetapi secara umum kitab ini lebih utama dari sunan Ibnu Majah.

11.    Kritik Terhadap Kitab Hadis
Belum ada ulama yang secara spesifik mengkritik kitab al-Darimi ini. Hal ini disebabkan karena masih jarangnya studi terhadap kitab ini, dan masih jarangnya kitab syarah yang membahas hadis-hadis dalam kitab ini. Akan tetapi beberapa hadis yang terdapat didalamnya telah ada yang dikritik dengan menunjukkan cacat yang ada padanya, walau tidak secara mengkritik kitab al-Darimi ini. Hadis yang memiliki cacat yang tersembunyi (‘Illat) jumlahnya ada beberapa, sebagaimana juga hadis-hadis yang dhaif dan munkar.

12.    Sanad Kitab Hadis
Ulama ahli hadis tidak ragu mengatakan bahwa kitab ini sebagai kitab sunan ad-Darimi. Adapun naskah yang diriwayatkan Abu ‘Imran ‘Isa ibn “Umar ibn al-‘Abbas al- Samarqandiy. Menurut adz-Dzahabi, Abu ‘Imran ini adalah ahli hadis yang terpecaya, murid Abu Muhammad ad-Darimi dan meriwayatkan musnad darinya. Ia adalah syaikh yang maqbul, untuk keterangan lebih lanjut kami belum mengetahui tentang keadaannya. adzDzahabi juga berkata:” Kami tidak mengetahui kapan  ia (Abu ‘Imran) wafat. Adapun yang kami ketahui bahwa ia masih hidup pada sekitar tahun 320 H di Samarkand.

13.    Kedudukan Kitab
Kitab Hadis ini hanya popular dikalangan ulama dan ahli hadis saja, sementara dikalangan ulama pada umumnya, kitab ini tidak banyak dikenal. Hal ini disebabkan karena kitab hadis ini tidak banya mengemukakakan tambahan hadis dari pada apa yang sudah ada dalam al-Kutub al-Sittah, disamping isi kandungannya yang memuat atsar, mauquf dan maqtu’.
Akan tetapi kitab ini memiliki posisi yang tinggi dikalangan ahli hadis,. Halini disebabkan karena ke-imanan penulisnya, dan kemampuan hafalannya keluasan pengetahuan serta ketinggian thabaqatnya yang melebihi imam Muslim dan penyusun kitab sunan lainnya. Juga disebabkan karena dalam kitabnya banyak terdapat sanad-sanad sahih yang tinggi kualitasnya, dan sedikitnya zaidah dalam hadis-hadisnya yang marfu’. Di samping itu, imam Muslim dan para penyusun kitab sunan juga banyak meriwayatkan hadis dalam kitab Sunan al-Darimi ini sebagai mustakhraj dari apa yang ada didalamny.
Itulah kekuatan dan kelebihan kitab hadis ini yang menyebabkan Al-Hafidz al-‘Ala’I lebih memilih kitab ini untuk menjadi kitab hadis sumber standar keenam dari pada sunan Ibnu Majah.

14.    Kitab Syarah Imam ad-Darimi
Penulis belum menemukan buku yang mensyarah Sunan ad-Dârimî ini secara luas dan mendalam. Seperti kitâb Shâhir Bukhâri yang disyarah oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni atau Shâhîh Muslim yang disyarah oleh Imam Nawawî. Yang penulis ketahui adalah hanya sekedar tahqîq dengan menjelaskan kata-kata yang asing atau gharî yang dilakukan oleh Dr. Fawwâz Ahmad Zamli dan Dr. Khâlid as-Sab’i al-‘Alamî yang dicetak oleh Dâr ar-Rayyân Litturâts Cairo Mesir pada tahun 1407 H/ 19787 M.

15.    Metode Ad-Darimi Dalam Penyusunan Kitab Sunan Ad-Darimi
Dalam upaya pengumpulan hadis yang dilakukan oleh Ad-Darimi dalam kitabnya tersebut, ada beberapa metode yang dilakukan oleh beliau, sehingga kitab sunannya dapat disusun dengan sistematika yang bagus.
*      Dalam penyusunannya, Ad-Darimi menggunakan metode bab per-bab. Beliau mengumpulkan hadis dengan menguraikannya berdasarkan bab-bab fikih, dengan menyertakan derajat hadis yang marfu’, mauquf, dan maqtu’.
*      Tidak memperbanyak jalur sanad, sehingga tersusun secara ringkas. Penyertaan hadis mu’allaq pun menjadi minimalis.
*      Tidak melakukan pengumpulan hadis dalam satu bab yang sama.
*      Tidak melakukan pemenggalan hadis.
*      Ad-Darimi melakukan pengumpulan hadis dalam kitab sunannya dengan sistematika proporsional.

16.    Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut:
a.       Ad-Darimi sebagai seorang ulama berkapasitas tinggi yang telah diakui oleh para ulama, telah melahirkan sebuah karya yang sangat berharga berupa kitab hadis dengan judul “al-Hadis al-Musnad al-Marfu’ wa al-Mauquf wa al-Maqtu’”.
b.      Rincian bagian dalam kitab Sunan Ad-Darimi adalah berjumlah 3367 buah hadis yang terbagi dalam 24 kitab dan ratusan bab. Mayoritas hadisnya bersandar kepada Nabi, selebihnya 89 merupakan hadis mursal, dan 240 hadis maqtu’.
c.       Salah seorang ulama, al-Hafiz al-‘Ala’i lebih memilih kitab sunan Ad-Darimi menjadi kitab hadis sumber standar keenam daripada sunan Ibnu Majah, dengan pertimbangan kekuatan dan kelebihan kitab hadis sunan Ad-Darimi tersebut.














DAFTAR PUSTAKA

·         Al-‘Asqalâni, Ibnu Hajar. 2004 M/1425 H. Taqrîbut Tahzîb., Dâr Ibnu Rajab Manshûrah Mesir, Cetakan I

·         Muhammad Az-Zahabi, Samsuddin. 2003 M/1424H. Siyarul ‘Alâmin Nubalâ, Ash-Safa Cairo-Mesir, Cetakan I

·         ‘Ali Farhat, Muhammad. tt. Dirâsat Fi Manâhijil Muhadditsîn. Cetakan I

·        Ibin ‘Abdur Rahmân, ‘Abdullah. Sunan ad-Dârimî, Dâr Kitâb ‘Arabî Beirut Cetakan I 1407 H/ 1987.
·        Dosen Tasir Hadis, Studi Kitab Hadis, Cetakan II, Yogyakarta: Teras, 2009.



[1] Sirotul Mushonnifiina, CD Mawsu’ah Al-Hadits Al-Syariif,
[2] CD Maktabah Syamilah, Pustaka Ridlwan, 2009.
[3] Sirotul Mushonnifiina, Al-Darimi, CD  Mausu’ah Al-Hadits Al-Syariif, Global Islamic Software, 1991-1997.
[4] Agung Danarta, Kitab Sunan Al-Darimi dalam Studi Kitab Hadits (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 181.
[5] Agung Danarta, Studi Kitab Hadis (Yogyakarta: TERAS 2009)halm.184-185
[6] Agung Danarta, Studi Kitab Hadis (Yogyakarta: TERAS 2009)halm.186

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar